Wednesday, March 02, 2011

Sabarlah Hati...



Ikhlas dan sabar

Mudah diucapkan, TAPI sulit dilakukan

Entry nie mungkin sedikit b'campur emosi

sori...sori...sori...dan sori

tapi aku mmg mcm nie

aku percaya yg kita mst jujur pd diri sendiri

(SAMPAI SAAT NIE MUNGKIN CUMA ADA 1 HAL YG MEMBUATKAN AKU MENIPU...
MENIPU...DAN TERUS MENIPU DIRI SENDIRI)

Kita lupakan hal tadi
Mmm...Hari nie da msk hari baru...bln baru...
Baru aku sedar, da byk rupanya hari yg aku tgglkan
X dpt dinafikan sejak kebelakangan nie aku selalu d'uji.

Dari mslh diri aku sendiri, family, kwn-kwn dan mcm-mcm lagi
Yela...manusia biasa...xkan la bole lari dr mslh kan?
Sungguh t'kdg sume mslh tue mmg menguji ketahanan diri


" NAK ATAU TAK, HIDUP MST DITERUSKAN..W'PUN APA YG DI HARAP X MENJADI KENYATAAN "


Satu yg pst, aku "bangga" dgn diri aku sendiri sbb slalunya d'saat aku "jatuh"
aku still mampu utk bangun dgn sendiri...Tuhan sedarkan aku!

ALHAMDULILLAH

TUHAN MEMANG SAYANGKAN AKU
( korg pun mst percaya tue!)


 Reminder dlm diri, plus dlm hp aku...;p)


ALLAH TAKKAN UJI KITA KALAU DIA TAHU 
KITA TAK MAMPU UTK HADAPI TUE SUME
DAN 
JGN RISAU, SBB DIA TAHU APA YG TERBAEK UTK KITA


Lagi satu!
Yup...aku sgt suka cermin!
Dalam hidup nie kdg kita perlukan cermin

Cermin nie




Jugak cermin-cermin yg mungkin ada di sini

Pengalaman manusia!

Jom kte same-same amik iktibar dari kisah nie.

Tentang keikhlasan dan kesabaran manusia.

Seorang tua mendatangi seorang gadis yang belakangan ini wajahnya selalu tampak murung.
“Kenapa kau selalu murung, nak? Bukankah banyak hal indah di dunia ini? Ke mana perginya wajah bersyukurmu?” tanya pkcik tua tersebut.
“Kebelakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya,” jawab gadis tersebut.
Pkcik tua tersebut tersenyum sambil berkata 
“Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam. Bawalah kemari”

Si gadis beranjak perlahan tanpa semangat...melaksanakan permintaan

org tua itu, lalu kembali membawa segelas air dan garam sebagaimana

yang diminta.
“Coba ambil segenggam garam, masukkan ke segelas air itu, kemudian minum” Kata pkcik tua.
Si gadis pun melakukan. Sambil mengerut-ngerutkan muka.
“Bagaimana rasanya?” tanya pkcik tua tersebut.
“Masin, dan perutku mual” jawab gadis tersebut dgn wajah yg berkerut.
Pakcik tua itu tersenyum bagaikan suka.
“Sekarang kau ikut aku”
Pkcik t'sebut membawa gadis tersebut ke perigi. Perigi berhampiran dgn mereka. 

“Ambil sisa

garam td, coba kau tebarkan ke dalamnya”

Si gadis menebarkan sisa segenggam garam td tanpa bicara. Rasa

masin di mulutnya belum hilang. Ingin diludahkan rasa tak sopan pula, begitu pikirnya.
“Skrg coba kau minum air dlm perigi itu,” 

kata pkcik tua tersebut

smbil m'angkat sebaldi air dr dlmnya.
Si gadis menangkupkan kedua tangan, mengambil air, lalu meneguknya. 
Kemudian pkcik tua bertanya
“Bagaimana rasanya?”
“Segar, segar sekali,” kata si gadis sambil mengelap bibir.

Tentu saja, air perigi ini asalnya dr aliran sumber bwh tanah di sana.Sudah pasti

air perigi  ini juga menghilangkan rasa masin yang tersisa di mulutnya.
“Terasakah rasa garam yang baru sj kau tebarkan td?”

“Tidak sama sekali,” kata si gadis sambil mengambil air dan meminum

lagi. 
Pkcik tua hanya tersenyum memperhatikan, membiarkan gadis tersebut minum sepuasnya.

“Nak,” kata pkcik tua setelah gadis td selesai minum. “Segala masalah

dlm hidup itu spt segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih.

Hanya segenggam garam. Byknya masalah dan penderitaan yg harus

kau alami s'pnjg kehidupanmu itu sudah dikadar oleh Allah, sesuai
untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang

dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun
demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang nabi, yang
bebas dari penderitaan dan masalah.”
Si gadis terdiam, mendengarkannya.

“Tapi nak, rasa masin dari penderitaan yang dialami itu sangat

tergantung dari besarnya kalbu (hati) yang menampungnya. Jadi,

supaya tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan kalbu

dalam dadamu itu sebesar air di perigi.

3 comments: